Pemberontakan APRA, Andi Aziz, RMS, PRRI, dan Permesta

Sejarah dan kronologi tentang pemberontakan APRA, Andi Aziz, RMS, dan PRRI/Permesta yang terjadi diberbagai daerah Indonesia, seperti apa kronologinya? Berikut ini ulasannya.

Pemberontakan APRA, Andi Aziz, RMS, PRRI, dan Permesta

Gerakan APRA (30 Januari 1950)

Pembentukan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) ternyata menimbulkan ketegangan-ketegangan dan mengakibatkan terjadinya pertumpahan darah, di kalangan TNI sendiri ada tantangan dan keengganan untuk bekerjasama dengan KNIL.

Sebaliknya di pihak KNIL ada tuntutan agar bekas kesatuannya ditetapkan sebagai alat negara bagian. Ketegangan ini dipertajam oleh pertentangan politik antargolongan "federalis" yang ingin tetap mempertahankan eksistensi negara bagian dengan golongan "unitaris" yang menginginkan negara kesatuan.

Untuk mengatasi pemberontakan APRA, pemerintah segera mengirimkan bala bantuan antara lain kesatuan polisi dari Jawa Tengah dan Jawa Timur (saat itu sedang berada di Jakarta). Dalam pertempuran di Becet tanggal 24 Januari 1950, pasukan TNI berhasil menghancurkan gerakan APRA.

Pemberontakan Andi Aziz (5 April 1950)

Pada tanggal 5 April 1950 di Makasar muncullah pemberontakan yang dilakukan oleh kesatuan-kesatuan bekas KNIL di bawah pimpinan Kapten Andi Aziz. Adapun faktor-faktor yang menyebabkannya antara lain berikut ini.
  1. Menuntut agar pasukan bekas KNIL saja yang bertanggung jawab atas keamanan Negara Indonesia Timur.
  2. Menentang masuknya pasukan APRIS dari TNI.
  3. Mempertahankan tetap berdirinya Negara Indonesia Timur.

Dalam upaya mengatasi pemberontakan Andi Aziz semula pemerintah mengeluarkan ultimatum yang isinya agar Andi Aziz datang ke Jakarta untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Akan tetapi, sampai batas yang ditentukan Andi Aziz tidak memenuhi perintah, maka pemerintah mengirimkan ekspedisi untuk menumpasnya. Pasukan dipimpin oleh Kolonel Alex Kawilarang. Andi Aziz menyerah pada bulan April 1950 dan pertempuran masih berlanjut hingga Agustus 1950.

Pemberontakan RMS (25 April 1950)

Di Ambon pada tanggal 25 April 1950 bekas Jaksa Agung Negara Indonesia Timur Dr. Soumokil memproklamasikan berdirinya Republik Maluku Selatan (RMS) terlepas dari Negara Indonesia Timur dan RIS.

Untuk mengatasi peristiwa tersebut pemerintah mencoba menyelesaikan secara damai dengan mengirimkan misi di bawah pimpinan Dr. Leimena. Akan tetapi upaya ini gagal, maka pemerintah memutuskan untuk menumpasnya dengan kekuatan senjata dengan membentuk pasukan ekspedisi di bawah pimpinan Kolonel Kawilarang.

Pada tanggal 14 Juli 1950 pasukan ekspedisi mendarat di Pulau Buru dan berhasil menguasai pos-pos penting di Pulau Buru. RMS ternyata memusatkan kekuatannya di Pulau Seram dan Ambon di Maluku Tengah. Pasukan APRIS kemudian berhasil menduduki Seram dan gerakan selanjutnya diarahkan ke Ambon.

Pada permulaan bulan November 1950 pasukan APRIS akhirnya berhasil menguasai Ambon. Akan tetapi dalam pertempuran memperebutkan Benteng Niew Victoria, Letkol. Slamet Riyadi tertembak dan gugur.

Pada tanggal 2 Desember 1963 Dr. Soumokil berhasil ditangkap, selanjutnya pada tanggal 21 April 1964 diadili oleh Mahkamah Militer Luar Biasa dan dijatuhi Hukuman Mati.

Pemberontakan PRRI/Permesta (15 Februari 1958)

Pertentangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang berpangkal pada masalah otonomi dan perimbangan keuangan makin hari makin meruncing.

Hal ini ditandai dengan dibentuknya dewan-dewan daerah, seperti Dewan Banteng di Sumatra Barat oleh Letkol. Achmad Husein (10 Desember 1956), Dewan Gajah di Medan oleh Kolonel Maludin Simbolon (22 Desember 1956), dan Dewan Manguni di Manado oleh Letkol. Vence Sumual (18 Februari 1957).

Untuk menumpas pemberontakan PRRI, segera disiapkan operasi gabungan yang terdiri atas unsur darat, laut, dan udara. Serangkaian operasi yang dilakukan adalah sebagai berikut.
  1. Operasi Tegas dipimpin oleh Letkol. Kaharudin Nasution dengan sasaran daerah Riau.
  2. Operasi 17 Agustus di bawah pimpinan Kolonel Ahmad Yani untuk mengamankan daerah Sumatra Barat.
  3. Operasi Saptamarga di bawah pimpinn Brigjen Jatikusumo untuk mengamankan daerah Sumatra Utara.
  4. Operasi Sadar dibawah pimpinan Letkol. Dr. Ibnu Sutowo untuk daerah Sumatra Selatan.

Untuk menumpas pemberontak Permesta dilancarkan operasi gabungan dengan nama Operasi Merdeka di bawah pimpinan Letkol. Rukminto Hendraningrat.

Nah itulah sejarah tentang Pemberontakan APRA, Andi Aziz, RMS, PRRI, dan Permesta, semoga artikel ini bisa menambah wawasan dan membantu teman-teman belajar.